Menjadi Bermakna di Belantara Internet

Saya pernah membaca sebuah buku berjudul @linimas(s)a dengan jargon Pengetahuan adalah Kekuatan. Buku tersebut memuat sejumlah artikel yang ditulis oleh para pakar yang sudah tidak asing lagi di dunia internet. Artikel-artikelnya pun sangat menarik, menarik netizen untuk melakukan perubahan baik pada diri sendiri maupun orang lain dan lingkungannya.

Sebut saja Antyo Rentjoko: Banyak Masalah (dan Bahan) di Sekitar Kita, Anggara Suwahju: Merawat Kebebasan Berinternet di Indonesia, Merry Magdalena: Agar Sains Teknologi Tak Identik dengan Kaum Adam.

Dari sekian banyak artikel yang ada di buku tersebut, dua artikel menjadi favorit saya yaitu artikel yang ditulis oleh Nukman Luthfie: Bermakna di Lautan Media Sosial, dan artikel Hasnul Suhaimi: Memberikan Manfaat Lewat Nge-blog.

Kedua artikel itu memikat saya karena sama-sama memuat tentang blog di dalamnya. Nukman menulis tentang Tangga Teknografi Sosial dengan posisi teratas sebagai Creator. Apa ciri utama Creator? Ciri utamanya adalah: memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan meng-upload audio atau video karyanya ke website (bisa YouTube misalnya).

Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengupload video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi: memiliki blog dan rajin memperbaruinya. (@linimas(s)a, 2011:65). Sementara itu Hasnul menulis tentang menulis blog. Menulis blog itu gampang-gampang susah. Mungkin sedikit sulit jika tidak memiliki pengalaman menulis, tetapi bukan berarti tidak bisa. (@linimas(s)a, 2011: 36)

image by canva

Simpang-Siur Media Sosial
Membaca kedua artikel itu saya berpendapat, apabila ingin menjadi bermakna di belantara internet, jadilah seorang Creator yaitu blogger yang mengelola blog dengan cukup baik. Setiap tulisan kita diarsipkan dengan rapi sehingga memudahkan ketika hendak mencari artikel yang bersangkutan di masa yang akan datang.

Facebook dan Twitter memberikan akses kepada penggunanya untuk mempos semua hal termasuk uneg-uneg pribadi. Sama halnya dengan blog. Akan tetapi penggunanya, termasuk pengalaman saya, kesulitan untuk mencari pos dimaksud terlebih jika lupa kapan pos tersebut di-upload. Sedangkan dengan blog, kita bisa mencarinya melalui pengarsipan (tahun, bulan, tanggal) serta dilengkapi dengan judul pos dimaksud.

Itulah sebabnya saya lebih memilih blog ketimbang media sosial untuk memuat tulisan-tulisan panjang yang kadang membutuh riset terlebih dahulu. Selain itu, mudah pula dibagikan ke berbagai media sosial melalui tombol share.

image by canva

Membangun Personal Branding
Menjadi lebih bermakna di belantara internet dimulai dengan membangun personal branding. Di mana dan bagaimana membangun personal branding? Di blog. Itu jawaban saya. Apabila kalian mempunyai jawaban lain, silahkan menulisnya sendiri.

Membangun personal branding melalui blog bisa dimulai dengan mengisi kolom biografi pemilik blog seperti nama, alamat e-mail, nomor telepon/WA, hingga akun media sosial pendukung. Tapi bukan berarti kolom biografi bisa langsung menjadikan pemilik blog mendadak bermakna di belantara internet. Lantas apa? Konten! Lagi-lagi, kontenlah yang akan ‘berbicara’, kontenlah yang akan mengantar kita pada kata: bermakna.

Merujuk pada artikel Nukman tentang Tangga Teknografi Sosial yaitu Creator. Sederhananya, blogger yang menulis konten orisinil, dia dikenal sebagai creator, dan ketika menjadi creator si blogger tentu telah memasarkan diri atau image-nya secara individu (atau bisa juga kelompok).


Personal Branding Haruskah Punya Blog Ber-Niche?
Tidak...
Meskipun, menurut saya, blog ber-niche membuat blogger lebih mudah dikenal. Misalnya: Evvafebri (https://www.ewafebri.com) lebih mudah dikenal sebagai pakarnya Bullet Journal karena pilar utama blog-nya adalah tentang Bullet Journal. Atau Himawant Sant (https://www.tripofmine.com) yang menulis tentang pengalaman traveling-nya sehingga kalau menulis Himawant pasti langsung mengingat ragam candi maupun perjalanannya.

Tapi banyak juga blogger dengan blog bertopik random yang kemudian populer padahal mereka menulis tentang banyak hal seperti kecantikan, review produk/film, bahkan kehidupan pribadinya. Intinya, kembali pada konten, konten, dan konten. Karena, kalau tidak punya konten, apa yang mau dijual?


Menjadi Bermakna di Belantara Internet
Jutaan pengguna internet di seluruh dunia, bagaimana menjadi bermakna? Dari penjelasan-penjelasan di awal, untuk bisa menjadi bermakna di belantara internet, jadilah seorang creator, jadilah seorang blogger yang selalu memperbarui konten blog-nya dengan tulisan orisinil. Terutama, jika ingin menjadi full time blogger sebagai pekerjaan utama / matapencaharian.


Apa yang harus dilakukan?


  1. Memperbarui/meng-update konten blog secara kontinyu. Rentang waktu kontinyu ini beraneka ragam. Bisa seminggu sekali, seminggu dua kali, atau bahkan sebulan hanya empat kali.
  2. Menulis tentang hal-hal yang bermanfaat atau yang postif dengan ‘akar’ yang kuat. Bermanfaat di sini diantaranya bisa membikin orang lain tertawa ketika membaca pos blog tersebut, atau bisa membikin si pembaca ‘tergerak’ melakukan sesuai apa yang dibacanya.
  3. Membalas komentar dari para pembaca/teman blogger dengan santun.
  4. Blogwalking ke blog lain.

Bagi saya pribadi, blogwalking merupakan hal wajib, karena selain sebagai bentuk silaturahmi juga sebagai wujud menjadi bermakna di lautan internet tadi. Sederhananya dapat dilihat pada gambar berikut:


Sebagian blogger berpikir blogwalking tidaklah penting. Tidak masalah. Karena setiap blogger punya pemikiran dan perjalanannya masing-masing.

Kesimpulannya, siapa pun kalian, selama kalian bukan selebriti yang selalu diburu informasi kehidupannya, selama kalian bukan pakar ini itu yang selalu dicari tips dan triknya, selama kalian merasa tidak perlu blogwalking, jika ingin menjadi bermakna di belantara internet maka jadilah seorang blogger yang selalu memperbarui konten blog-nya dan blogwalking ke blog orang lain. Ingat pula yang ditulis Hasnul: Menulis blog itu gampang-gampang susah. Mungkin sedikit sulit jika tidak memiliki pengalaman menulis, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Jadilah bermakna

Semoga bermanfaat.

Postingan ini dikirim oleh:
Photo


Yellow Is The Colour of Hope...
  1. Wow, ini artikel keren yang ditulis oleh kak Tuteh tentang personal branding.
    Lebih surprise lagi, ada namaku disebutkan diatas.
    Terimakasih banyak kak Tuteh dan mas Indra.

    Mari kita ciptakan karya orisinil dan bermanfaat buat banyak pembaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama2 mas, yang kasih surprise lgsg seniornya hehe

      Delete
    2. Huehehe semoga bermanfaat :D

      Delete
  2. Mari jadi seorang creator yang baik dan produktif, yang keren dan dan gak suka bikin onar apalagi hoax
    He..he...
    Semoga saya bisa juga jadi creator yang begitu, semangat blogger💪💪💪

    ReplyDelete
  3. Dari artikel ini, salah satu konklusi yang saya dapat: menjadi bukan selebriti ada enaknya walau informasi dari kita tak banyak diburu, setidaknya hidup tak bergelimang gosip tentang kita ya kak. Heheh... Tetap bermakna, setidaknya kita tahu makna diri kita sendiri untuk diri sendiri pula terlebih dulu.

    ReplyDelete
  4. semgoga saja kita sebagai blogger juga mampu memberi manfaat di dunia internet ini dengan konten yang positif dan menginspirasi untuk banyak orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul @Maschun, terima kasih ... semoga kita bisa seperti itu ...

      Delete
  5. Kak Tuteeeh.. Saya terharu baca ini.. 😭😭😭 ... Terima kasih apresiasinya ❤️❤️❤️ semoga terus semangat berkarya kakaaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehhehe sama-sama Mak Bowgel ... mari terus berkarya! :)

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel